Lasem, Pecinan dan Batik Pesisiran

Posted on 23 November 2012. Filed under: Catatan Perjalanan | Tag:, , , , , , , , , , , |

oleh: caturaka

“Adik darimana?”, tanya lelaki kecil dengan rambut sudah memutih. Dari foto yang terpampang di kanan kiri pintu masuk rumahnya, saya menduga inilah si master batik warna merah dari Lasem ini. Widji Suharto, namanya. Mengawali pembicaraan saat bertemu kali pertama, ramah dan tegas kesan yang saya tangkap. Ia tinggal di sebuah rumah kuno berarsitektur kecinaan. Pagar bagian depan tertutup dengan gerbang yang biasa berjarak beberapa meter dari rumah induk. Terbuat dari kayu, berlapis dua. Bagian depan seperti pagar, sementara bagian dalam pintu penuh. Pada bagian atas ada semacam peneduh.

Nama Widji, saya kenali saat membaca beberapa referensi tentang batik Lasem beberapa waktu sebelumnya. Ia satu-satunya pewaris rahasia racikan warna merah khas batik Lasem. Batik-batik yang dihasilkannya memiliki keelokan tersendiri. Meski kasar dan didominasi motif tumbuhan laut, saya duga inilah kekhasan batik Lasem. Warna merah pada batik, berbeda dengan warna lazim merah pada kain batik dari Lasem maupun batik asal daerah lainnya. Saya bandingkan dengan batik Jogjakarta, Cirebon, Pekalongan dan batik LAsem lainnya setelah singgah di sentra pamer batik Lasem sebelumnya. Warna ini yang menjadi ciri khas utama batik Lasem.

Widji adalah generasi keempat penerus usaha batik Lasem. Ia masih bergelut dengan pembatikan hingga saat ini. Usahanya kini menyisakan 50 orang sebagai pembatik. Dulu, pembatiknya hingga lebih 400an jumlahnya.

Widji menceritakan bagaimana ia dengan susah payah akhirnya bisa mewarisi rahasia racikan warna merah darah ayam yang hanya diketahui mertuanya. Sebagai menantu, ia tidak serta merta langsung mendapatkan rahasia racikan warisan keluarga turun temurun ini. Ia mendapatkannya dengan cara ‘curi’. Istilah ini ia pakai untuk membedakan dengan mencuri. Mencuri ia artikan mengambil milik orang lain. Ada yang dirugikan. Kalau ‘curi’ yang ia lakukan tak lebih bagaimana ia secara telaten mencari tahu kadar racikan saat merawat mertuanya. Dengan ‘curi’ pandang tentunya. Ia menimbang dan mengukurnya sendiri. Kemudian mengaplikasikan pada kain-kain batik sebagai eksperimen. Butuh waktu lama untuk bisa menakar dengan pas. Terkadang ia menunjukkan pada mertuanya hasil racikannya. Pada saatnya, ia bisa membuat warna merah yang pas dengan racikan yang dibuat mertuanya.

Hasilnya, hingga kini hanya Widji-lah yang bisa membuat warna merah darah ayam khas batik Lasem. “Warna merah ini racikan khusus, disebut warna merah darah ayam,” ujar Widji. Sambil terkekeh ia katakan warna itu bukan dari darah ayam. Tentu saja bukan, gumam saya dalam hati, tidak ada satu ekor ayam yang bisa dilihat saat sepanjang siang hingga sore di rumahnya.

“Ciri utama batik Lasem adalah warnanya yang kusam, memang itu khasnya. Kalau cerah, itu sudah bukan Lasem,” kata Widji, tegas. Menurutnya, ini yang membedakan batik Lasem dengan batik Laseman. “Kalau Laseman, bisa dibuat dimana saja asal motifnya mirip batik Lasem. Kalau batik Lasem ya batik yang dibuat dari Lasem sini,” terangnya.

Pertemuan beberapa jam pada bulan Januari 2010 ini membuat kami sangat akrab. Ia juga menceritakan sejarah Lasem sepanjang yang Ia ketahui. Saya-pun masih mengingat nama Lasem dari bacaan-bacaan tentang Majapahit. Bhre Lasem disebut dalam Negara Kretagama. Demikian halnya saat observasi tentang batik pesisiran, nama Lasem mengemuka. Sebagai tetua di paguyuban warga Tionghoa, ia mengajak untuk mengunjungi tiga Klenteng di Lasem. Saya sangat beruntung dengan ajakannya.

Klenteng pertama yang kami datangi ada di Babagan. Namanya Gie Yong Bio. Saya tidak boleh memotret bagian dalam, meski bisa dengan leluasa memasukinya bersama Widji. Ia katakan ada kesepakatan dan menjadi aturan bahwa tidak boleh ada pemotretan di bagian dalam klenteng ini. Ia katakan, ini juga demi keselamatan saya. Ia tak menceritakan lebih detail, hanya saja terkait dengan kejadian supra natural yang sebelumnya pernah menimpa seseorang.

Bangunan klenteng ini tidak luas. Pada sebuah papan dituliskan kesejarahan klenteng ini: Gie Yong Bio adalah klenteng yang didirikan pada tahun 1780 untuk menghormati leluhur yang berani dan berbudi. Sebagai peringatan bagi pahlawan-pahlawan kota Lasem dalam perang melawan VOC pada tahun 1742 dan 1750. Perlawanan masyarakat Lasem tersebut dipimpin oleh 3 bersaudara(setelah menjalankan upacara sumpah sebagai saudara angkat), yaitu: 1. Raden Ngabehi Widyaningrat(Oey Ing Kiat) Adipati Lasem 1727-1743 & Mayor Lasem 1743-1750. Beliau gugur di Layur Lasem Utara pada tahun 1750. Dimakamkan di gunung Bugel Lasem. 2. Raden Panji Margono, Putra Tejakusuma V Adipati Lasem 1714-1727. Belaiau gugur di Karangpace-Narukan,   Barat pada 1750. Dimakamkan di Dorokandang Lasem. 3. Tan Kee Wie, pendekar kungfu dan pengusaha di Lasem. Beliau gugur di selat antara Pulau Mandalika dan Ujung Watu – Jepara setelah perahu tertembak meriam VOC dalam perjalanan hendak menggempur VOC pada tahun 1742.

Penghormatan kepada ketiganya dilakukan dengan menempatkan mereka di altar-altar persembahyangan di ruang sisi kanan klenteng. Warga menganggap mereka sebagai desa penyelamat, Khongco dalam bahasa mandarin. Saya menyempatkan menghormati ketiganya dengan cara seperti yang dilakukan komunitas ini. Bagi saya cukup aneh saat melihat ada sesosok patung berpakaian adat Jawa di sebuah altar persembahyangan etnis ini. Duduk pada sebuah kursi, kedua tangan diatas kedua sisi pegangan kursi. Ia patung Raden Panji Margono Putra Tejakusuma V. Perjuangan dua etnis yang berbeda di masa silam ini yang membuat relasi antara orang Jawa dan Tionghoa di Lasem cukup dekat.

Klenteng berikutnya terletak di Dasun, Cu An Kiong. Ia cukup luas jika dibandingkan dengan Gie Yong Bio. Umur pembuatan juga lebih tua, konon dibangun abad 16. Ornamen di dalamnya penuh dengan ukiran. Ia bersebelahan dengan sungai Lasem yang mahsyur. Pada kunjungan bulan Februari ke tempat Widji, Saya berkesempatan diajak menghadiri semacam tasyakuran tahun baru di rumah anggota komunitas Tionghoa. Letaknya dekat Cu An Kiong, beberapa puluh meter saja. Saya leluasa memasuki seluruh ruangan.

Pada satu ruang, ada satu lubang menganga, mirip sumur. Ia ditemukan secara tak sengaja saat renovasi dilakukan. Pemilik rumah menduga saluran yang mengarah ke sungai Lasem ini adalah jalur penyelundupan semasa itu. Saat ini letaknya tak bisa dibilang dekat dengan sungai Lasem. Sekitar limapuluhan meter.

Semasa kolonial, Lasem dikenal memproduksi kapal-kapal berkualitas hingga 1930an. Menjadi pelabuhan perdagangan dan juga cerita penyelundupan opium. “Galangan kapal yang semula untuk membuat kapal perang Majapahit mulai dikembangkan menjadi galangan kapal dagang. Pada 1856-1858, ketika di bawah perusahaan Brawne an co, galangan itu terkenal se-Asia Tenggara. Dalam kurun waktu dua tahun, galangan itu mampu membuat 35 kapal.Pada zaman Jepang, galangan difungsikan untuk membuat kapal pengangkut perlengkapan militer untuk dibawa ke Morotai dan Papua. Pada 1942, Jepang berhasil memproduksi 150 kapal dan pada 1943 membuat 127 kapal. Pada 1944, Jepang merencanakan membuat 700 kapal, tetapi hanya terealisasi 343 kapal,” tulis Kompas, pada 2009.

Klenteng ketiga, Poo An Bio, terletak di Karangturi. Klenteng ini seukuran yang di Babagan. Saya menyempatkan juga ‘sembahyang’ di Klenteng ini dengan bimbingan Widji. Ia pula yang membaca semacam tanda keberuntungan melalui tulisan-tulisan dari bambu. Ia cukup senang dengan hasil yang terbaca saat saya dan seorang kolega melakukannya. Saya, setengah percaya dan tidak atas pembacaan seperti ini.

Terpeliharanya bangunan lama ber-arsitektur cina merupakan hal yang menarik tentang Lasem. Rumah Widji di Babagan sangat menarik, modelnya asli dan masih utuh. Ia juga masih memiliki satu rumah lagi di jalan Dasun. Tidak ditempati. Bentuknya juga masih asli dengan arsitektur eropa, meski tampak kurang terawat. Dua paviliun di sisi kanan dan kiri mengapit bangunan utama. Tempat ini sempat dijadikan spot syuting film Ca Bau Kan besutan Nia Dinata. Sama halnya dengan tempat tidur di rumah Widji yang dipakai beberapa adegan.

Saya masih bertemu dengan Widji beberapa kali di tahun yang sama. Pada Februari saat perayaan imlek di klenteng Babagan Lasem, dan juga pada Maret di Jogjakarta. Beberapa bulan berikutnya sempat bertemu saat ia mengikuti sebuah pameran kerajinan di Jakarta, sekitar Mei. Selama setahun lebih berikutnya, kami tidak pernah bertemu.

Pesan pendek dan telepon masih beberapa kali kami lakukan. Akhir tahun 2011 ia cukup sering berusaha menelpon Saya, sayang hanya beberapa saja yang terangkat. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan sms. Mata Widji tak awas lagi membaca, ditambah pula kesulitan menggunakan telepon genggam. Ia sekedar menanyakan kabar hingga meminta saya berkunjung jika sempat. Saya mengiyakan dengan berusaha menyesuaikan jadwal saya ke Jogjakarta. Sekalian perjalanan pulang dari Jogjakarta melalui jalur utara, pikir saya.

Awal tahun 2012, saya berusaha menelponnya tapi selalu gagal. Saya gundah tak bisa menghubunginya selama beberapa minggu. Saya ingin mengunjungi Lasem pada April. Saya sempat membayangkan hal terburuk yang terjadi pada Widji, Ia sudah meninggal. Tapi saya tetap berharap tidak demikian, sambil menunggu jawaban atas beberapa sms yang saya kirim.

Satu waktu di awal April saya berhasil mendapat jawaban sms yang saya kirim. Sempat menelpon juga, yang mengangkat anak perempuannya. Ia mengabarkan ayahnya sakit dan tak bisa bicara di telepon. Untuk urusan batik, anak laki-lakinya yang menangani, Henri. Tanggal 6 April Saya pergi ke Lasem setelah urusan di Jogja selesai.

Saya berkomunikasi dengan Henri melalui sms tentang kedatangan saya. Sore hari saya sampai di Babagan. Bertemu dengan anak perempuan Widji dan mengobrol beberapa saat dengan Henri. Saya menemui Widji di dalam kamarnya. Ia tampak terkejut dengan kedatangan saya, sebutan kepada saya masih sama: nak Catur. Obrolan mengalir, beberapa hal saya tahan agar ia tak banyak bicara. Kata dokter, paru-parunya hanya berfungsi seperempat. Nafasnya sering tersengal saat bicara panjang. Badannya kurus. Kursi roda tampak disisi tempat tidur.

Saya menduga, sakit paru-parunya bertambah parah karena kebiasaanya tidur di lantai selama bertahun-tahun. Itupun tanpa selembar baju, hanya bercelana pendek. Saya sudah mengingatkan mengurangi kebiasaan ini saat 2010 menginap di rumahnya. Ia katakan tak bisa tidur jika tidak di lantai.

Widji mengatakan sudah tidak membatik lagi, tidak kuat. Henri yang kini mengerjakan semuanya. Ini sama seperti yang saya dengar dari anak perempuannya. “Aku sudah mau mati, nak Catur,” kata Widji tersengal-sengal. “Jangan berpikiran begitu pak Widji,” saya berusaha menyemangatinya. Sekiranya setengah jam mengobrol, Saya berpamitan kepadanya. Saya ingat pesan Henri agar tak berlama mengingat kondisi kesehatan ayahnya. Biasanya, Ia tak pernah mengijinkan orang bertemu jika tak sangat penting.

Di teras rumah saya masih mengobrol dengan Henri beberapa saat. Terutama tentang batik. Saya berharap ia tetap membuat batik warna merah darah. Ia saat ini sedang mencoba desain kontemporer, memadukan desain lama dengan pola baru yang dibuatnya. Saya melihat beberapa lembar, bagus. Memproduksi batik dengan desain sederhana dan pengerjaan cepat. Ini caranya untuk bisa bertahan dengan permintaan batik tulis oleh konsumen dengan kisaran harga dibawah 200 ribu. Ia belum mencoba batik-batik eksklusif dengan harga jutaan rupiah seperti yang Widji lakukan.

Tiga Negeri misalnya, harganya bisa lebih tiga juta satu lembar. Proses pengerjaan memang rumit, pewarnaan merah di Lasem, warna biru di Pekalongan, dan soga di Solo. Widji juga pernah menerima pesanan selembar batik dengan harga tujuh juta rupiah, motif gambar naga. Henri masih menyimpan beberapa karya Tiga Negeri buatan Widji.

Senja hari, sekira dua minggu setelah kunjungan April, saya menerima sms dari Henri. Ia kabarkan ayahnya sudah meninggal pagi hari. Saya membalas dengan mengucapkan belasungkawa dan berharap dikuatkan bagi Henri dan saudara-saudaranya. Henri katakan sore itu sedang prosesi pemakaman. Saya berdoa dari kejauhan, di Sidoarjo. Selamat istirahat Widji Suharto, selamat menjalani kehidupan berikutnya Sie Hoo Tjauw.


Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

Recently on Bumi Nusantara…

Ijen, Eksotisme Danau Kawah

Posted on 2 November 2012. Filed under: Catatan Perjalanan | Tag:, , , , , , , |

Menapak Mahameru, Melintas Desa-desa Tertinggi Jawa

Posted on 18 Oktober 2012. Filed under: Catatan Perjalanan | Tag:, , , , , , , |

Celoteh Ini Senjata Kami

Posted on 24 Juli 2011. Filed under: Catatan Aktivitas | Tag:, , , , , , , , |

Empat Tahun Janji Tak Pasti

Posted on 21 Juli 2011. Filed under: Opini | Tag:, , , , , , , , , , , , |

Empat Tahun Bersama Racun Lapindo

Posted on 21 Juli 2011. Filed under: Opini | Tag:, , , , , |

Membungkam Kebenaran Dengan Lumpur Panas

Posted on 21 Juli 2011. Filed under: Opini | Tag:, , , , , , |

Lumpur ‘MAUT’ Lapindo

Posted on 24 Juli 2008. Filed under: Catatan Aktivitas | Tag:, , , , , , , , , |

Bengkel Badan

Posted on 9 Mei 2008. Filed under: Catatan Perjalanan | Tag:, , , , , |

BBM Naik…

Posted on 7 Mei 2008. Filed under: Opini | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , |

    Perihal

    Catatan Bambang Catur Nusantara, laki-laki kelahiran Surabaya. Seorang pemerhati lingkungan dan masalah sosial. Semasa kuliah aktif pada kelompok pecinta alam Akasia. Menggeluti jurnalisme sejak masa kuliah dengan aktif mengelola buletin Tropika. Dua belas tahun setelah kuliah mengabdikan diri pada pengembangan pendidikan lingkungan di Klub Indonesia Hijau dan advokasi lingkungan pada Walhi. Berkawan dengan korban Lapindo dan mengelola www.korbanlumpur.info. Berkesempatan mengenyam studi singkat Ekologi Politik di ISS The Hague dan kursus Narrative Jurnalism Pantau. Hobi traveling dan fotografi. Saat ini juga tergabung dengan Bingkai Indonesia – Research and Creative Multimedia di Jogjakarta.

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...