Bengkel Badan

Posted on Mei 9, 2008. Filed under: My Spot | Tags: , , , , , |

–caturaka–

Ternyata tidak hanya kendaraan yang butuh dibenahi di bengkel. Tubuh kita, perlu sekali dua kali masuk bengkel untuk perawatan. Bukan seperti tukang pijat urut, urat, atau dokter ahli pertulangan yang menangani. Orang tua yang Saya temui bukan pemijat maupun dokter ahli. Beliau menggunakan kunci-kunci layaknya bengkel dalam menangani pasien yang antre.

“Ini bukan pijat urat lho mas,” kata rekan kerja Saya tiga hari lalu. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk membenahi. Jadi tidak bisa berlama-lama untuk merasakan kenyamanan pijat urut seperti yang biasa Saya lakukan rutin sebulan dua kali. Wah, penasaran benar seperti apa sentuhannya. Apalagi sang kawan menambahkan,“Sip pokok-e…seharian kemana-mana nggak kerasa capek.” Kawan Saya memang sudah merasakan dan membuktikan servis bengkel ini.

Rumah yang sekaligus menjadi bengkel praktek ini berada di Surabaya. Harus pegang alamat jika mau ke tempat ini. Kalau tidak, mungkin akan mengalami kesulitan. Mengikuti jalur jalan padat kampus sebuah perguruan tinggi swasta, sebuah perumahan elit, baru belokan-belokan jalan yang lebih sempit mesti dilalui. Lanjut ke gang sempit selebar tidak lebih satu setengah meter memaksa semua pasien yang datang untuk turun dari motor, atau mesti melanjutkan dengan jalan kaki dan memarkir mobil di jalan luar.

Beruntung, kawan Saya yang baik hati sudah pesan tempat dengan mendaftar di pagi-pagi sekali. Pukul 11 kurang saat kedatangan kemaren(8/5) ternyata tidak ada seorang pasien yang sedang ditangani. “Antre banyak mas, aku wae daftar untuk besoknya,” kata kawan Saya kala itu yang terpaksa mendaftar untuk jadwal keesokannya. Itupun saat dilakukan penanganan sudah tiga pasien lebih dulu selesai dipermak. Jadwal praktek tetap pkl 7 pagi hingga 3 sore nonstop, kecuali jum’at jeda mulai 10 pagi hingga 1 siang. Memang ada libur khusus pada hari pasaran wage dan jum’at legi berdasar penanggalan jawa.

“Mari mari, silahkan,” sapa orang tua ini ramah sekali mempersilahkan masuk saat kami tiba. “Ini yang tadi pagi pesan ya?” lanjutnya bertanya pada kami sambil memastikan dengan memeriksa buku daftar pasien. Setelah kami memastikan terdaftar, barulah dipersilahkan masuk sebuah ruang. Kamar sederhana ukuran sekitar enam meter persegi dengan tempat tidur kayu ini rupanya bengkel kerjanya. Keluhan Saya sampaikan, badan cepat capek dan mudah kram. Orang tua inipun kemudian mempersilahkan Saya duduk di tepian tempat tidur dengan kaki tetap menyentuh lantai. Berikutnya percakapan ternyata berlanjut dalam bahasa jawa kromo-an, karena Ia tahu Saya bisa menggunakannya.

“Aduh grhhhhmmmm,” suara keluar dari mulut Saya menahan sakit luar biasa. “asalipun saking ngriki mas, gulu geger nggih dados kenging sedanten[i],” kata orang tua ini sambil tetap memegang engkel kaki Saya. Memang terasa seperti bergeronjal saat tangannya menyentuh beberapa bagian kaki. Tapi sejurus kemudian saat diulangi sudah tidak ada dan tidak terasa sakit sama sekali. Wow, luar biasa.

Berikutnya, betis dengkul pinggang punggung leher dan dada dipermak. Ada semacam gerakan sistematis saat menangani bagian-bagian badan ini. Dan, kunci-kunci yang digunakan ternyata perlambang bentuk tangan dan gerakannya yang menyerupai peralatan bengkel. Jari jemari kadang membentuk kunci pas, gerakan tangan juga menyerupai dongkrak. Ia beberapa kali menegaskan bahwa bukan sedang memijat, tapi membenahi bagian-bagian badan Saya ini.

Ramah dan humoris begitu terkesan dari sosok orangtua ini. Sepanjang waktu permak yang dilakukan, dialog gaya jawa penuh berkesan kami lakukan. Beberapa keluhan lain akhirnya juga Saya sampaikan. “Rumiyen kulo ndamel kendaraan vespa, nanging mung tigang wulan amargi sesek saben dinten[ii],” mulut Saya berkata-kata. Mendengar ini, tangannya langsung tertuju pada bagian lengan dan dada. “weh, lha niki mboten karuan ngaten[iii],” ujarnya sambil terkekeh. Sejenis minyak yang digunakan dicampur dengan balsem gosok menghangatkan bagian-bagian yang mendapatkan penanganan. Setelah beberapa kali ‘disentuh’ ulang ternyata tidak ada rasa sakit seperti saat tangan-tangannya menyentuh diawal.

Dialog kami lakukan dalam waktu yang cukup singkat ini. Saya akhirnya bisa mengetahui sosok dan pengalamannya dalam perbengkelan ini. Berumur 77 tahun dan memulai saat umur 30 menjadi ukuran kematangan luar biasa kemampuannya. Pasiennya juga tidak hanya berasal dari sekitar Surabaya, mulai Sumatera hingga Papua pernah ditanganinya. “Nggih syukur, ketingalipun jodohipun teng ngriki[iv],” terangnya mengilustrasikan pasien-pasien jauh yang datang dan langsung terpulihkan setelah ditangani. Pengalaman bekerja sebagai ‘teknisi’ para atlet olahraga ternyata yang membuatnya mengetahui benar seluk beluk otot dan persendian.

“Mugi-mugi jodohipun teng ngriki[v],” katanya sambil menyodorkan segelas air putih. Sayangnya Saya tidak banyak bisa berkomunikasi lebih lanjut karena seorang mitra menghubungi Saya cukup lama pada sesi akhir perbengkelan. Saya beruntung bisa ditangani lebih dari limabelas menit tidak seperti kebanyakan lainnya. Tidak ada banderol harga tertentu yang dipatok Sang Orang tua ini. Bersalaman merupakan simbolisasi yang Saya ulang dua kali. Limapuluh ribu Saya selipkan di tangan saat bersalaman kedua kali, sebuah angka yang lumrah dan murah dengan berbagai pengalaman pijat yang pernah Saya lakukan sebelumnya.

Dan saat keluar dari ruang ini ternyata tiga orang sudah antre di ruang tamu. Beruntunglah Saya yang mendapati sepi pasien seperti hari ini. “kulo nggih seneng mas nek kados ngaten, saged istirahat[vi],” kata-kata yang Saya ingat diucapkannya beberapa saat sebelumnya. Ini pengalaman luar biasa. Saat segalanya sudah mengarah pada kemajuan teknologi, ternyata masih ada model penanganan tradisional yang juga tidak seperti biasa Saya temui.

Tidak ada lagi rasa capek di punggung saat Saya menuliskan ini. Sebuah perubahan langsung yang bisa Saya rasakan. TOHIMOEN, nama orang tua ini. Baru Saya ketahui setelah disodori kartu nama. Ya, tanpa promosi dan papan reklame besarpun Ia sudah kewalahan menangani berjubel antrean pasien. Benar kiranya Ia menolak saat ditawari seorang rektor perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya untuk memasang papan nama. Tanpa itu semua sudah ramai luar biasa apalagi jika diumumkan, tidak bisa dibayangkan. Malah merepotkan karena gang masuk bengkel bisa penuh dengan orang.


[i] Asalnya dari sini mas, leher punggung jadi ikut kena semua

[ii] Dulu saya pakai vespa, tapi hanya tiga bulan karena dada jadi sesak setiap hari

[iii] Wah, lha ini tidak karuan begini

[iv] Ya syukur, sepertinya jodhnya disini

[v] Semoga cocok di sini

[vi] Saya juga senang seperti ini mas, bisa istirahat

Make a Comment

Make a Comment: ( 1 so far )

blockquote and a tags work here.

One Response to “Bengkel Badan”

RSS Feed for Bumi Nusantara Comments RSS Feed


Where's The Comment Form?

    About

    wajah pucat menahan amarah, rembulan menyinar tak berpesona, surya berpekik pada manusia, bumi bergolak tak kuasa dijamah tangan manusia!

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • Komentar-komentar terakhir pada seluruh tulisan dalam RSS
    • Subscribe in Rojo

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...