BBM Naik…

Posted on Mei 7, 2008. Filed under: My Mind | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Siap tidak siap warga harus mengalami lonjakan harga berbagai kebutuhan akibat kenaikan harga BBM. Belum resmi naik saja, daging ayam dan telor sudah berlipat harga kenaikannya. Negeri kaya BBM yang mestinya untung dari naiknya harga minyak dunia kok malah jadi sengsara. Celaka sungguh celaka.

Ya, sekali lagi derita ini mesti harus dituliskan. Kesengsaraan yang ditimpakan oleh pemangku kebijakan di negeri kaya ini mesti disikapi. Setelah sekian lama orang dipaksa untuk menikmati bahan fosil ini, tanpa kesigapan panjang mesti kembali ke jaman sebelumnya. Ya, seandainya kayu bakar masih dipertahankan mestinya masih terjadi keseimbangan orang mengambil dan menanam. Jika kayuh sepeda angin diberi ruang di jalan-jalan mestinya tersedia satu lajur untuknya. Minyak goreng dipenuhi dengan proses pembuatan sendiri dari buah kelapa yang tanamannya bisa ditemui dimana-mana. Sayur dan buah bisa ditanam jika tanah menjadi bagian penting alat produksi warga.

Sayangnya yang demikian mau tidak mau, diakui atau tidak telah menjadi roadmap pembangunan Indonesia. Negara modern maju yang dicita-citakan menejerembabkan warga dalam jurang kemiskinan yang semakin dalam. Krisis yang melanda negeri ini belumlah terselesaikan sejak bermula kemerdekaan.

BBM yang dalam berbagai media cetak elektronik dimungkinkan naik per 1 maret 2008 patut mendapat cermatan. Belumlah lagi warga terlepas dari kesulitan adaptasi penggantian minyak tanah ke liquified petroleum gas (LPG), sekarang deraan kenaikan bertambah tidak hanya pada minyak tanah saja yang sudah langka. Dalam artikel Oil Boom, kok malah buntung (Surya, 7/5) jelas menggambarkan wilayah Jawa Timur saja sebagai contoh memiliki 32 blok migas. Sayangnya blok-blok ini dikuasai oleh perusahaan asing. Artinya wilayah hulu migas Indonesia yang harusnya benar-benar dijaga tidak lagi dikuasai oleh negara. Yang lebih mencengangkan banyak penyelewengan juga atas bagi hasil produksinya. Pemerintah benar-benar telah rendah diri dalam menghadapi investasi asing dalam sektor ini.

Yang celaka kemudian adalah warga yang mesti kelimpungan terhadap berbagai lonjakan harga. Bisa dibayangkan segala kebutuhan yang produksi dan distribusinya menggunakan BBM pasti juga mengoreksi harga jual produknya naik signifikan. Cara jeli menurut pemerintah dengan pembatasan dan kartu kendali rasa-rasanya juga tidak akan cukup signifikan menghantarkan negeri ini dari krisis energi.

Koreksi tata Migas Indonesia

Sudah saatnya pemerintah memalingkan diri dari kesalahan yang pernah dibuat. Hutang IMF yang lunas cukup sudah sebagai bahan untuk menghentikan segala kebijakan yang pernah dimunculkan akibat tekanan lembaga ini. Sektor hulu migas layaknya mendapat proteksi kembali demi tercukupinya kebutuhan energi dalam negeri.

Berbagai kebijakan privatisasi dan kecenderungan memihak kepentingan investasi asing layaknya dihentikan. Privatisasi air melalui perundangan tinjau ulang sebelum bergerak lebih jauh. Kebijakan obral murah konsesi untuk migas dan mineral juga mesti dihentikan. Tidak perlulah mengejar produksi hingga lebih dari sejuta barel per hari jika negara kemudian hanya mendapat bagian kecil seper sekian. Ini kebodohan luar biasa yang mesti dihentikan. Tunggulah saat kecakapan keuangan negara memungkinkan, sehingga kebutuhan untuk eksplorasi dan ekploitasi sumber energi fosil bisa dilakukan sendiri. Ini sangat diandalkan untuk menjamin kebutuhan pendapatan negara kurun sekian puluh tahun kedepan.

Memang tidak hanya kebijakan energi saja yang bermasalah. Banyak sektor lain yang juga tidak boleh luput dari cermatan. Konspirasi alih fungsi hutan menjadi salah satu bagian dari potret keseluruhan carut marut ini. Apalah artinya kesepakatan bersama dalam mengatasi krisis iklim, jika kelakuan masih tetap mengarah kepada krisis yang lebih dalam. Rakyat yang disuruh menanam, pemerintah ternyata masih juga obral kawasan hutan. Logika apa yang bisa bisa menjelaskan.

Mungkin celaan Saya bisa dimaknai macam-macam, namun ini semua buncahan kegeraman atas beban-beban yang mesti ditanggung. Haruskah Saya beradaptasi dengan berusaha mencari penghasilan lebih dan lebih lagi.

Bersiap

“Pae, harga daging ayam sudah 22 ribu..telor ikut naik juga,” kata istri tercinta Saya pagi hari ini(7/5). Inilah isyarat bahwa ada kebutuhan lebih besar menganggarkan belanja mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Saat ini memang agak berbeda dengan tiga tahun silam saat Saya masih memiliki peternakan kecil ayam. Paling tidak selain menjual telor ayam, beberapa yang mengalami keretakan dan tidak layak jual dapat dikonsumsi sendiri. Sayangnya penyakit yang belum Saya ketahui pastinya menghabiskan lebih dari seribu ekor berbagai jenis ayam yang Saya pelihara. Memang kala itu di sekian wilayah lain sedang gencar-gencarnya pembasmian akibat flu burung. Sekarang tinggal seekor ‘mentok’ yang tiap hari bertugas menghabiskan berbagai makanan sisa. Ikan dalam tiga petak kolam juga belum mendapat giliran untuk dapat didayagunakan.

Meski tidak banyak tumbuhan di halaman belakang rumah, setidaknya pepaya; katuk; labu; cabe; kemangi; dan empon-empon masih dapat mengurangi jumlah belanja. Beberapa tanaman buah juga menjadi varian kala bisa dipetik. Sayangnya belum dapat membuat tungku hemat energi di halaman rumah. Beberapa batang tumbuhan yang bersebaran di halaman belakang belum termanfaatkan sebagai sumber energi. Demikian halnya beberapa sisa potongan sayuran yang tidak digunakan belum dapat dioptimalkan juga. Apalagi ‘kotoran’ yang wajib keluar tiap hari di toilet juga masih menuju saluran pembuangan septictank belum optimal dikelola gasnya menjadi sumber api.

Saya memang sudah pada tahapan melakukan optimalisasi berbagai sumber dan bahan yang berserahkan disekitar sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup. Hanya belum optimal benar hingga sekarang. Mungkin ide atas berbagai kondisi krisis yang pernah Saya alami mendorong munculnya ini semua. Ya, dulu saat tinggal di sebuah kabupaten bagian timur propinsi jatim paling tidak dua hingga tiga juta minimal Saya dan keluarga habiskan untuk mencukupi kebutuhan sebulan. Saat ini dengan lahan tanpa bangunan yang bisa dioptimalkan seluas 70m2 cukup menopang berbagai kebutuhan pangan dan menekan belanja hingga kurang dari sejuta. Saya memang belum optimal benar dalam memanfaatkan, tapi yakin bahwa ini juga dilakukan banyak orang dan juga bisa dicoba oleh semua orang.

Sayangnya mesti bisa menekan belanja, kebutuhan energi yang dikonsumsi keluarga juga masih besar jumlahnya. Saya hanya bisa membayangkan jika ada kemudahan untuk mendapatkan teknologi kincir angin ataupun panel surya semakin lengkap sudah ketidaktergantungan Saya. Naik sepeda 700 meter dan melanjutkan dengan komuter belum juga menjadi pilihan, meski akan cukup signifikan berpengaruh. Keharusan menjangkau beberapa wilayah dan tidak dengan duduk saja di kantor menjadi hambatan karena tidak semua wilayah difasilitasi moda transportasi yang murah.

Terus Menanggung Derita

Tapi kembali pada kondisi umum yang menjadikan lahan serba terbatas untuk dimiliki. Ada perbedaan cara memandang kepemilikan lahan sebagai aset produksi. Lahan cukup luas yang dimiliki oleh banyak orang diberbagai wilayah subur pertanian wilayah selatan jatim tidak mencerminkannya sebagai basis produksi yang semakin menguat. Kenyataan TKI dan buruh pabrik berasal dari wilayah ‘perdesaan’ ini yang besar jumlahnya telah menyajikan gambaran renggangnya relasi warga dan alam.

Pola konsumsi atas bahan pangan juga berubah. Saya belum mencoba menghitung secara detil. Mana yang akan menghasilkan resiko yang signifikan jika beras dan mie instan disandingkan sebagai pilihan untuk ditiadakan. Saya agak yakin jika mie ditiadakan akan luar biasa dampaknya bagi sebagian besar kalangan yang terbiasa mengkonsumsinya. Beras yang mahal tidak mungkin dapat diakses oleh banyak kalangan karena masih membutuhkan sekian perlakuan baru bisa disajikan. Beda jauh dengan mie instan. 4-5 bungkus mie instan yang sebanding dengan harga sekilo beras cukup lima menit sudah siap disajikan. Hitung-hitung bahan bakar yang bisa dihemat tentu berselisih jauh. Apalagi produksi beras dalam negeri belumlah tuntas permasalahannya pada level produksi maupun distribusinya.

Sumber karbohidrat yang bergantung pada satu jenis pangan cukup signifikan mempengaruhi kerentanan jika terjadi kegagalan produksi. Pada kenyataannya, Indonesia hanya sanggup berswasembada satu tahun saja kala Suharto berkuasa di medio awal. Demikian halnya jika kemudian mengandalkan pada mie yang berbahan terigu yang mesti impor. Penyandaran pada jenis ini juga akan menimbulkan kerentanan yang sama. Meski kedua sumber karbohidrat ini mengalami kenaikan harga yang disadari terus terjadi, masih belum cukup untuk memalingkan kepada sumber lainnya. Sekian banyak umbi di Indonesia belum menggugah segenap elemen bangsa untuk mulai melakukan diversifikasi secara lebih nyata. Indonesia kaya sumber karbohidrat luar biasa.

Ya, penguasaan negara semestinya tidak dimaknai dengan sentralisasi. Berasisasi telah menjadikan jagung menjadi pangan yang mencerminkan kemiskinan sehingga hanya layak menjadi pakan ternak. Uwi, telo, mbothe dan berbagai jenis umbi yang mestinya lebih kaya karbohidrat daripada beras juga belum mendapatkan perhatian yang besar. Padahal karakter satu wilayah dengan wilayah lain berbeda. Adaptasi sekian lama warga untuk dapat selaras menjadikan sumber daya lokal menunjang hidupnya tidak dilihat sebagai bagian kekayaan.

Di kepala Saya, keragaman yang dihilangkan dengan cara demikian nyata terjadi. Mungkin perlu diskusi panjang untuk menyajikan temuan berbagai orang yang tentunya berbeda juga. Tapi contoh nyata lain atas pendekatan yang cukup menggelikan adalah keseragaman untuk penyelenggaraan pendidikan. Menurut Saya ini keterlaluan. Tidak mungkinlah Jawa disamakan dengan Papua. Jakarta disamakan dengan Banyuwangi. Atau yang lebih gawat Amerika disamakan dengan Indonesia. Mengapa juga Unas dilakukan dan menjadi standar kelulusan bagi proses belajar siswa di sekolah? Dimana peran guru menghantarkan dan merekam pendidikan selama 6 tahun untuk SD, 3 tahun di SMP, dan 3 tahun di sekolah menengah. Cukupkah siswa dinilai cakap hanya dalam 3 hari dengan mengerjakan sekian soal ujian saja?

Konstruksi sekian lama sudah menghantarkan pada kondisi krisis luar biasa. Saatnya terjadi perubahan-perubahan dalam berbagai hal dengan melihat sumber daya luar biasa Indonesia. Saya bisa menyajikan demikian karena merupakan bagian dari warga yang mengalami krisis serupa. Energi, kesehatan, pangan, pendidikan, dan banyak kebutuhan lainnya mesti Saya cukupi dengan terengah-engah. Saya juga telah berusaha lepas dari krisis mulai dari diri sendiri. Tapi signifikankah bagi seluruh negeri ini jika pengemban amanah tidak menyadari semua dan mulai melakukan perubahan tindakan melalui kebijakan-kebijakannya?

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

    About

    wajah pucat menahan amarah, rembulan menyinar tak berpesona, surya berpekik pada manusia, bumi bergolak tak kuasa dijamah tangan manusia!

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • Komentar-komentar terakhir pada seluruh tulisan dalam RSS
    • Subscribe in Rojo

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...