Junaidi Oh…
–caturaka-
Anak itu jatuh dari sebuah pohon tiga bulan lalu, pinggul dan beberapa bagian tulangnya patah akibat hamparan bawah yang berjarak tiga meter dalamnya. Membusuk luka akibat ditangani dengan cara biasa. Bau tak sedap menyembul dari luka, menghantarkannya pada sebuah pengasingan gubuk kecil di tengah sawah. Makan sekali dalam sehari, kadang lebih jika ada yang bersimpati.
Sebuah hantaran malam sebelum tidur dan sarapan pagi cukup mengundang mimpi buruk datang dan sejumlah makanan sarapan meronta ingin keluar. Saat hingar bingar kemajuan dan pembangunan diteriakkan, sebuah kenyataan atas keterpinggiran kaum miskin dalam mendapatkan layanan kesehatan mengarah pada sebuah kejadian luar biasa…pembunuhan.
Ya, yang hendak Saya tekankan adalah: sebuah ketidakadilan yang ‘di-pasrah-i’ kemudian oleh sebuah keluarga, menjadikan seorang manusia bernama Junaidi terancam kehilangan nyawa. Sungguh memilukan dan tragis bila kemudian kejadian penghilangan nyawa ini menjadi kenyataan.
Mungkin akan banyak orang menganggapnya sebuah kejadian biasa, namun tidak bagi Saya. Inilah sebuah realita yang masih terjadi, yang entah dengan kembaran berapa jika tidak terkuak dalam berita-berita media tak akan ada cerita kebenaran yang menyertainya. Ini sebuah kebenaran tentang kejadian yang kini masih nyata. Bukan dongeng atau cerita bualan di tengah jaman yang katanya sudah berkecukupan. Berapa banyak lagi cerita seperti ini ada di wilayah sekitar kita. Inilah krisis sesungguhnya.
Kemiskinan(trauma dan phobia)
keluarga tidak memiliki daya untuk merawat sang Junaidi yang sedang terkena musibah. Luka-luka yang diderita ditangani dengan perlakuan yang menjadi kebiasaan warga desa. ‘Pijat’ bisa menyelesaikan problema patah tulang, keseleo, dan sebagainya. Apa daya ternyata perkembangan terkini ahli patah tulang tradisional(sangkal putung) kebanyakan juga memerlukan foto rontgen sebelum membenahi patah-patah bagian tubuh pasiennya. Kejadian tulang bengkok dan tidak lurus asal, mungkin menjadi pijakan untuk meningkatkan persyaratan bagi kepuasan pelanggan. Ya, ongkos raba-raba penyambungan tulang ala tradisional memang jauh lebih terjangkau meski ditambah rontgen, daripada sentuhan modernitas tangan terdidik dokter dengan berbagai peralatan medis jaman sekarang yang berada pada fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan.
Kaum miskin menjadi sulit dengan persyaratan secarik keterangan ‘miskin’ untuk mendapatkan layanan kesehatan. Toh, meski telah ada asuransi bagi kaum miskin nyatanya masih juga menjadi mainan bagi mereka yang menguasai akses atas pelayanan ini. Berujung pada tinjau dan penghentian fasilitas ini oleh Menteri Kesehatan dan dirombak dengan model lain, menjadi cerminan begitu sempitnya ruang bagi warga miskin dalam mendapatkan pelayanan dan perlindungan yang menurut konstitusi ini dijamin dengan tegas.
Salahkah seorang yang bernama Munayar sebagi orangtua pada akhirnya hanya mampu berikhtiar dengan mengungsikan Junaidi ke sebuah gubuk yang menurut sebuah media juga hanya berjarak 1,5 meter dari kandang kambing? Sudah hilangkah solidaritas warga di kampung untuk bersama meringankan derita seorang anak bernama Junaidi ini?
Fenomena apalagi yang seringkali saat ini ditemui, sebuah derita disikapi oleh banyak kalangan(terutama birokrasi dan politisi) kala memiliki tempat di media.
Setakut atau semenarik apa media bagi kedua kalangan ini?
Bagi birokrat sebuah aib jika pelayanan yang selama ini dikampanyekan ternyata menyisakan cerita lain. Prestasi menjadi menurun, walhasil bisa jadi ditegur –diperingatkan – atau dipindahtugaskan bagi seorang kepala pelayanan kesehatan. Yah, ini menjadi jawaban jika kemudian sigap tanggap perlu segera dilakukan. Bagi politisi, tidak hanya kejadian bencana yang perlu demikian. Apapun yang menjadi ‘perhatian publik’ patut segera diagendakan. Wah, kekonyolan ini semoga bukan yang sebenarnya menjadi latar belakang respon-respon yang kini bermunculan. Derita seperti ini bukanlah komoditas.
Keluarga Munayar dan juga sebagian besar lain keluarga yang belum berkecukupan mungkin pernah merasakan pahit dan berbelitnya urusan pelayanan kesehatan. Bisa jadi ketakutan atas cerita tetangga atau sanak keluarga yang pernah merasakannya. Patah satu tulang saja bisa berjuta-juta biaya yang mesti dikeluarkan, apalagi tulang remuk di pinggang. Inilah realita layanan kesehatan Indonesia. Berbelitnya urusan mendapatkan layanan kesehatan bagi kaum miskin yang hampir setiap saat menjadi penghias berbagai media menghantarkan ketakutan bagi semua keluarga miskin lain yang akan melakukannya.
Pengalaman Saya ketika anggota keluarga dirawat pada kelas tiga sebuah rumah sakit daerah menghabiskan dibawah setengah juta rupiah, bisa jadi berbeda ukuran kemahalannya bagi keluarga lainnya. Apalagi penyakit juga berbeda. Menjadi rasional bagi Saya ketika ukuran setengah juta sangat susah didapatkan bagi sebagian keluarga lain yang menyandarkan hidup dari buruh tani musiman dan hasil pencarian kayu bakar seperti keluarga Munayar. Apalagi patah tulang sudah sangat umum menceritakan sajian angka jutaan dalam penanganan. Saya sendiri pernah menghabiskan lebih sepuluh juta dalam tempo delapan hari dirawat hanya karena demam berdarah pada sebuah rumah sakit swasta. Ya, memang berbeda-beda.
Seorang kawan pemilik sebuah rental kendaraan, pernah tak kuasa membebankan kerusakan kendaraan sewaan yang diseruduk oleh sebuah mobil pick up angkutan. Ini lantaran sang sopir angkutan sudah habis tujuh belas juta karena patah dua kakinya. Belum lagi masalah membenahi mobil yang dikendarai, minimal pada kisaran sepuluh juta. “Jika orang kampung, nilai tiga puluh juta sama dengan menjual sebuah rumah mas”, kata sang kawan masih Saya ingat benar dalam memori kepala.
Penghilangan Nyawa
Junaidi bisa jadi dalam beberapa waktu kedepan akan kehilangan nyawa dalam kondisi perawatan seadanya oleh keluarga. Tanpa bermaksud mendahului sang khalik, inipun juga menjadi keinginan keluarga agar Junaidi bisa diikhlaskan pergi karena sudah parah. Ya Tuhan, inikah ikhtiar yang sanggup dilakukan? Ataukah media yang membesarkannya, menyuguhkan tanpa mendalami perasaan orangtua yang memang dalam kondisi sulit luar biasa melakukan lebih bagi anaknya.
Meski sudah terulur bantuan dari berbagai pihak yang ada, sebagaimana diberitakan berbagai media, keluarga tetap memaksa untuk membawa kembali Junaidi dirawat di rumah. Apalah hak orang lain untuk melakukannya? Sekedar menolong untuk memberikan bantuan biaya bagi keluarga ini bukan berarti punya kewenangan memaksa kepada keluarga untuk menyerahkan Junaidi agar mendapatkan penanganan yang lebih. Pada beberapa media juga disajikan, seorang Junaidi ingin kesembuhan. Lalu bagaimana menyelamatkannya?
Negara. Ya, harusnya otak para birokrat negara tercinta segera tersadar atas kondisi yang ada. Lakukanlah kewajiban sebagaimana diamanahkan. Sebelum semua terlambat, harusnya ini segera disigapi dengan memberikan layanan maksimal dan meyakinkan bagi sang keluarga. Tragis sang Junaidi yang menginginkan kesembuhan tapi tak kunjung mendapatkan karena ketidakmampuan keluarganya. Demikian kasihan pula sang Munayar jika sampai terjadi benar hilangnya nyawa Junaidi. Pastilah tindakan hukum akan tertuju padanya, ya sebuah kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Atau bahkan lebih parah, dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan hilang sebuah nyawa.
Uluran tangan untuk ikhtiar lebih sudah ada, haruskah Junaidi kehilangan nyawa…


